Posts

Showing posts with the label Swary Utami Dewi

Sesi Spesial: "Menggali Karya dan Kiat Berkarya: Martin Suryajaya" - Fri, 19/02/21

Image
Menggali Karya dan Kiat Berkarya Martin Suryajaya Dalam seri diskusi Aksi Literasi pada Jumat (19/2/2021) kemarin, ditampilkan kembali Martin Suryajaya SS M. Hum, penulis buku filsafat, kritik seni dan sastra yang masih terbilang muda. Pada diskusi daring tersebut, Martin tampil bersama Andrinof Chaniago dari Komunitas Aksi Literasi, sebagai partner dialog, dimoderatori Swary Utami Dewi serta diikuti sekitar 70-an peserta. Banyak hal yang digali dari Martin, khususnya terkait isi (sebagian) karyanya maupun kiatnya dalam menghasilkan karya-karya berbobot khususnya bidang filsafat. Martin memang terbilang sangat produktif dalam menulis buku. Ia telah menulis sejumlah buku, termasuk jenis novel. Tak hanya itu, ia juga rajin menulis banyak artikel di sejumlah media. Bahkan sebagai milenial,  belakangan Martin juga memanfaatkan platform multimedia, dalam hal ini khususnya kanal Youtube, untuk menyebarkan pengetahuan filsafat ke publik, khususnya  untuk yang secara formal tidak berl...

Sesi Spesial: "Diskusi Aksi Literasi Bersama Erani dan Martin" - Fri, 22/01/21

Image
  Berbeda dengan sesi lainnya, sesi kali ini tidak membahas buku, melainkan diskusi tentang aksi literasi itu sendiri. Dua pembicara adalah penulis produktif, yaitu Martin Suryajaya dan Prof Ahmad Erani Yustika. Fokus Martin adalah filsafat, ekonomi politik dan sejarah, sementara Prof Erani ekonomi kelembagaan dan pembangunan. Diskusi dibuka oleh Andrinof Chaniago dan dimoderatori oleh Swary Utami Dewi. Diskusi yang digelar pada Jumat 22 Januari 2021 itu tak kalah seru dengan sesi sebelumnya. Berkesempatan membahas pertama, Martin menyampaikan tentang sejarah komunitas literasi, khususnya di Eropa. P aparannya cukup singkat namun sangat padat dan berisi. Ia mengulas informasi yg jarang diketahui bahkan oleh para akademisi. Beberapa misalnya nilai utama dari sejarah sejak munculnya "Republik Literasi" Abad 17, dampaknya pada Abad 18, lahirnya karya-karya seni dari seniman berwawasan luas, hingga gambaran ketertinggalan amat jauh budaya literasi di Indonesia. Prof Erani selan...

Seri 8: "Entrepreneurial State" (Mazzucato, 2013) - Fri, 13/11/20

Image
Aksi Literasi kembali menggelar bedah buku yang bermutu dan mencerahkan via zoom. Seri ke-8 menghadirkan buku karya Mariana Mazzucato, berjudul "Entrepreneurial State". Seri ini berlangsung pada  Jumat, 13 November 2020, Pukul 19.00 - 21.00 WIB. Dalam kesempatan istimewa ini, keynote speech disampaikan oleh Prof. Bambang PS Brodjonegoro, Ph.D. (Menristek/ Kepala.Badan Riset dan Inovasi Nasional), dilanjutkan pembahasan buku oleh Ibrahim Kholilul Rohman, Ph.D. (Head of Economic Research dari Samudra Indonesia) dan L. Tri Wijaya , Ph.D (Dosen dan Peneliti Universitas Brawijaya). Tentu saja juga ada opening speech dari Andrinof Chaniago  selaku inisiator dan pendiri komunitas Aksi Literasi. Bertindak sebagai moderator, Swary Utami Dewi , seorang penulis, sekaligus pegiat Aksi Literasi. Diskusi ini berjalan sangat seru. Prof Bambang di luar dugaan tidak hanya menyampaikan opening speech tapi juga ikut diskusi sampai lama. Tidak terasa 3 jam berlalu sangat cepat karena kualitas bu...

Seri 7: "The Narrow Corridor" (Acemoglu dan Robinson, 2019) - Fri, 02/10/20

Image
Seri Diskusi Buku "Aksi Literasi" KORIDOR SEMPIT KEBEBASAN ..... Setelah buku pertama mereka yang mendapat perhatian besar, WHY NATIONS FAIL (2012), kini Daron Acemoglu dan James A. Robinson kembali menghentak lewat buku terbaru, THE NARROW CORRIDOR: States, Societies, and The Fate of Liberty (2019). Dalam buku pertama mereka membahas pentingnya institusi-institusi negara yang inklusif, sebagai basis bagi ekonomi inklusif. Tetapi pertumbuhan ekonomi yang inklusif hanya mungkin eksis kalau ada jaminan ruang kebebasan dan kreativitas.   Kebebasan itu ada dalam koridor sempit dinamika tolak-tarik antara kekuasaan negara (power of state) dan kontrol masyarakat (power of society). Tidak mudah memang menjaga keberimbangan antara keduanya dalam koridor sempit. Tapi keberimbangan itu harus terus dijaga agar bisa terwujud institusi-institusi politik dan ekonomi yang inklusif, menggantikan yang ekstraktif. Bedah buku kali ini menghadirkan pembahas, yaitu Andrinof Chaniago (dosen ekono...

Seri 6: "Employment and Re-Industrialization" (Tadjoeddin dan Chowdury, 2018) - Fri, 01/08/20

Image
"Reindustrialisasi Berkelanjutan: Suatu Keniscayaan" Bedah Buku ke-6 dari komunitas Aksi Literasi menghadirkan buku "Employment and Re-industrialisation in Post-Soeharto Indonesia". Buku ini ditulis oleh Zulfan Tadjoeddin dan Anis Chowdury. Pembahasnya adalah dua ekonom: Poppy Ismalina dan Tata Mustasya. Pengantar diskusi diberikan oleh Andrinof Chaniago. Bedah buku melalui zoom ini digelar Sabtu, 1 Agustus 2020. Zulfan memulai pemaparan dengan menjelaskan bahwa buku ini merupakan hasil analisa dari apa yang terjadi di Indomesia pada era pasca rejim Soeharto, yakni 2001 sampai 2016. Saat itu, Indonesia pernah mengalami keajaiban pertumbuhan ekonomi ("Miracle Economy") bersama beberapa negara Asia Timur lainnya. Macan Asia ketika itu menunjukkan keperkasaannya. Untuk Indonesia, andalannya adalah buruh murah. Namun, beberapa catatan kritis ditemui di sini. Meski pertumbuhan ekonomi meningkat, tapi kesenjangan juga melebar. Selain itu, upah buruh rendah dan p...

Seri 4: "Capital and Ideology" (Piketty, 2019) - Fri, 03/07/20

Image
  Thomas Piketty, ekonom Prancis, dengan cemerlang menuliskan ide-idenya dalam buku terbarunya, Capital and Ideology, terbitan 2020. Meski terbilang muda, belum setengah abad, tetapi Piketty sudah diakui layak bersanding dengan Joseph Stigliz dan Paul Krugman, dua ekonom yang sudah menerima Hadiah Nobel, dalam suatu event. Piketty juga dalam tulisannya senantiasa menonjolkan ideologi sebagai pisau analisa dan dengan tajam melihat ekonomi bukan sesuatu yang lepas dari isu sosial politik. Keunggulan inilah yang membuat ide Piketty amat sangat layak diperbincangkan. Buku terbarunya tersebut di atas, setebal lebih dari seribu halaman, dibahas dengan begitu menariknya di ajang bedah buku ke-4 komunitas Aksi Literasi pada Jumat, 3 Juli 2020. Kali ini yang jadi pembahas adalah Dr. Airlangga Pribadi, dosen FISIP Universitas Airlangga. Sementara yang jadi penanggap adalah Kandidat Doktor Usman Kansong dan Dr. Fachru Nofrian. Dalam diskusi ini, Piketty dipandang secara seimbang. Ada apresia...

Seri 3: "Political Tribes" (Chua, 2020) - Fri, 19/06/20

Image
  Buku yang dibahas ini sangat relevan dengan kondisi kekinian Indonesia seiring menguatnya politik identitas di mana-mana. Pembedah utama kali ini adalah Manuel Kaisiepo, penasehat kantor staf presiden RI. Dua penanggap adalah Usman Kansong, kandidat doktor Komunikasi, UI, serta Putri Jasmine, aktivis dan outstanding graduates of Unpad. Diskusi yang berlangsung pada Jumat, 19 Juni 2020 ini dimoderatori oleh Swary Utami Dewi. Dari interaksi para peserta dapat disimpulkan bahwa politik identitas terjadi hampir di semua negara. Bahkan kemenangan Trump di Pemilu AS (sebagai garda depan demokrasi) masih menampilkan identitas. Di Asia, politik identitas semakin meruncing dan menjadi sumber konflik horizontal. Sumber: Admin dan Irwandi Maek

Seri 2: "Identity" (Fukuyama, 2018) dan "When Violence Works" (Barron, 2019) - Fri, 12/06/20

Image
  "Demokrasi Liberal sedang Mengalami Pembusukan" Jumat 12/06/20 sore digelar bedah buku ke-2 Aksi Literasi via zoom. Ada dua buku yang dibahas. Pertama, buku Francis Fukuyama, berjudul "Identity: Demand for Dignity and Politics of Resentment". Pemaparnya: Eko Sulistyo, seorang sejarawan yang menjadi Deputy di KSP (2015-2019). Demokrasi di ujung tanduk seiring menguatnya politik identitas di seluruh belahan dunia. Nasionalisme sempit ini menurut Fukuyama akan merusak demokrasi itu sendiri. Kelompok dan para pemimpin populist tidak percaya dengan institusi dan nilai-nilai demokrasi, akan tetapi mereka menggunakan mekanisme demokrasi untuk konsolidasi kekuatan. Mereka menjual isu-isu identitas primordial sempit. Cukup efektif. Banyak yang sudah terpilih sebagai kepala negara dengan jualan politik identitas itu. Fukuyama melihat hal ini karena demokrasi belum mampu menjawab secara sempurna apa yang disebutnya dengan problem of thymos, dimana semua orang ingin direkogn...